Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. Dikaruniai seorang anak dari Allah SWT melengkapi kebahagiaan keluarga ini.
Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu.
Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit, sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu.
Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, ia pun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, ia tidak ingin suaminya pulang yang dalam keadaan lelah harus berhadapan dengan kesedihan yang dalam dan tidak menyenangkan.
Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, ia pun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah.
Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, ia pun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri.
Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”.
“tentu bukan”, jawab Abu Thalhah.
Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”.
“tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami.
“bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi.
Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”.
“kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah SWT, maka Allah SWT telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah.
Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian hari itu. Bila sang isteri berkata apa adanya sejak kepulangannya, tidak mungkin ia harus bersenang-senang dengan makan yang lezat dan melakukan hubungan suami isteri.
Namun, ia menjadi semakin cinta dan bangga kepada sang isteri atas kecerdasan hati dan pikirannya atas peristiwa ini. “isteriku ternyata telah berbuat sesuatu yang patut diteladani”, pikirnya meskipun ia hampir tidak percaya dengan apa yang dialaminya.
Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah SAW nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah SAW mendo’akan agar Allah SWR memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu.
Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak ini pun menjadi penghafal al-qur’an yang mengagumkan.
Tak ada satupun laki-laki yang tidak menginginkan istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, cinta seorang lelaki tak akan perpaling sedikitpun jika istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, kecuali lelaki itu bodoh. Jadilah Rumaisah, kita akan serasa tinggal di sorga sebelum sorga.
[kaskus.co.id]
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Mei 2012
Rabu, 16 Mei 2012
Anjing dan Sufi
Suatu
hari seorang lelaki berpakaian sufi sedang berjalan-jalan. Di tengah
jalan dilihatnya seekor anjing yang tanpa sebab dan tanpa alasan
dipukulnya keras keras dengan tongkat.
Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, sambil terus menjilati lukanya. Ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.
Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, "Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!"
Jawab sufi itu, "Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku."
Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.
Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing, "Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami."
Kata anjing itu, "Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh!"
[republika.co.id]
Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, sambil terus menjilati lukanya. Ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.
Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, "Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!"
Jawab sufi itu, "Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku."
Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.
Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing, "Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami."
Kata anjing itu, "Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh!"
[republika.co.id]
Kisah Zaid dan Ubaid

Peluh bercucuran di dahi dua anak kecil kakak beradik. Mereka sedang bekerja menimba air di tengah terik matahari yang panas menyengat, semenjak ayahnya meninggal seminggu yang lalu, mereka rela membanting tulang bekerja kepada seorang Yahudi yang kaya raya tapi kikir dan kejam, demi membantu ibunya.
Mereka terlahir ditengah-tengah kondisi keluarga yang amat miskin. Keduanya berwajah tampan dengan rambutnya yang ikal. Sang adik kondisi tubuhnya lebih lemah dan sakit-sakitan. Wajahnya yang cekung tampak memerah oleh panasnya udara padang pasir di siang dibawah panas terik.
Ubaid sang kakak berhenti menimba dan berkata pada adiknya, ”Zaid, beristirahatlah sejenak, biar aku yang melakukan sendiri.”
Zaid tersenyum di antara wajahnya yang lelah. Dia menggelengkan kepala. ” Nggak ah nanti Tuan kita marah-marah lagi seperti kemarin.”
Ubaid berusaha membujuk adiknya, ”Tuan kita sedang pergi kok. Lagipula kamu kan sudah berkerja keras dari pagi tadi. Ayo beristirahatlah, pekerjaan ini sebentar lagi selesai.”
Akhirnya Zaid mau beristirahat. Dia berteduh dibawah sebatang pohon kurma. Tubuhnya memang selalu sakit-sakitan sejak ia lahir. Untung Ubaid adalah kakak yang baik dan sayang kepadanya. Angin berhembus pelan dan Zaid yang kelelahan itu pun tertidur tanpa terasa.
Tiba-tiba datanglah seorang lelaki gemuk menaiki keledai yang kuat. Namanya Raban, dia seorang Yahudi yang kaya raya. Dialah tuan yang memperkejakan Ubaid dan Zaid. Sifatnya kikir dan jahat, begitu melihat Zaid sedang tertidur, ia langsung naik pitam. Dijewernya telinga Zaid kuat-kuat. ” Jadi kerjamu hanya bermalas-malsan dan tidur saja seharian, hari ini kamu tidak akan dapat upah !”
Zaid kesakitan, melihat pemandangan tersebut Ubaid segera berlari mendekat. ”Jangan sakiti adikku Tuan Raban yang baik,” katanya menghiba
”Dia pemalas, dan pantas aku pukul, kalau begini terus bisa bangkrut aku !” hardik si Raban.
”Kalau Tuan mau memukul, pukullah saya sebagai gantinya.” jawab Ubaid. Tiba-tiba melayanglah tamparan keras di pipi Ubaid. Kemudian Raban mengeluarkan uang dan melemparkan ke tanah. ”Enyahlah kau pemalas !” Mereka memungut uang tersebut dan bergegas pulang.
Zaid terisak-isak. Ia sangat menyesal karena sampai tertidur. Ia kasihan melihat Ubaid, tapi ia lebih menyesal lagi, karena uang yang dibawanya pulang untuk ibunya sangat sedikit. Ah.. andai Ayah mereka belum meninggal, kehidupan mereka tidak akan sesulit ini. Namun mereka masih merasa bangga, karena mereka mempunyai ibu yang sangat bijaksana. Betapapun sedih hatinya melihat nasib anak-anaknya, ia selalu tersenyum dan selalu membuat mereka bahagia, dan tidak bosan-bosannya senantiasa mengingatkan mereka bahwa sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Setiap malam tiba mereka merasakan suatu kesepian yang panjang, mereka merasa malam-malam berikutnya pastilah akan berlalu seperti ini terus.
Namun ternyata Allah tidak berlama-lama membiarkan mereka dalam kesedihan. Karena pada suatu malam datanglah tamu yang ternyata Paman Atib, adik kandung ibu mereka. Paman Atib itu seorang pemuda yangg gagah dan terpelajar. Dia menyempatkan singgah untuk menengok kakak dan para keponakannya.
Kedatangan pamannya membawa kebahgiaan tersendiri, persis seperti cahaya bulan yang masuk dari sela-sela jendela butut rumah mereka. Selama beberapa hari mereka tidak perlu bekerja terlalu berat, karena Paman Atib bekerja membantu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Yang membahagiakan mereka berdua, adalah dikala setelah sholat Isya. Karena Paman Atib selalu bercerita tentang Rasulullah. Paman Atib memang pernah mengunjungi Madinah dan beberapa kali bertemu Nabi Muhammad Saw. Ubaid Zaid sangat bahagia sekali jika Pamannya bercerita mengenai Rasulullah.
Saat larut malam ketika semua mahluk terlelap, Zaid kecil terbangun. Sayup-sayup terdengar suara Paman Atib sedang melaksanakan sholat tahajud. Perlahan Zaidpun bangkit dan pergi ke sumur. Dibasuhnya tubuh yang kurus dengan air wudlu. ”Subhanallah,” ucapnya sambil mengagumi langit malam yang gemerlap. Teringat ia akan syair musafir yang pernah lewat hendak menuju Madinah, yang didendangkan dengan penuh rasa cinta.
Yaa... Muhammad...
Ini aku musafir yang terlunta-lunta...
Berjalan jauh arungi batu-batu tandus.
Tertatih-tatih menuju tempatmu berdo’a.
Lihatlah kakiku melepuh.
Rasanya sakit, Yaa...Muhammad...
Kau lihat bajuku koyak dan keringatku kering.
Betapa aku menderita, Ya... Muhammad...
Kuketuk pintu rumahmu dengan rasa malu
Kutakut aku terlalu hina untukmu
Bukalah pintumu untukku Yaa.. Muhammad...
Engkaulah sahabat dan Ayah orang-orang yang menderita.
Bukakan pintu dan kutatap wajahmu, sambil melepas tangis rindu..
Tersenyumlah padaku dan katakan ”Wahai hamba Allah...
Ini adalah rumah kasih sayangmu... Selamat datang dalam genggaman Persaudaraan Iman dan Cinta.
Perlahan Zaid berdiri disamping Paman Atid dan kemudian melakukan sholat Tahajud. Selesai sholat mereka berdua duduk menghadap jendela sambil menikmati cahaya bulan yang mempesona.
”Paman..” panggil Zaid lirih.
Paman Atib menoleh di elusnya punggung keponakkannya itu. ”Ada apa Zaid ?” tanyanya sambil tersenyum.
”Benarkah Paman besok akan pergi ?” tanya Zaid sambil tetap menatap bulan. Paman Atib terdiam sejenak. ” Ya... Zaid, Paman harus pergi...” jawabnya kemudian.
”Pergi kemana ?” tanya Zaid.
”Ke Madinah..” jawab Paman Atib.
Zaid menoleh dan menatap wajah pamannya dalam-dalam. ” Paman akan bertemu Rasulullah?” tanyanya perlahan.
Paman Atib tersenyum dan mengangguk. ”Insya ALLAH...” jawabnya.
”Apakah Rasulullah seorang yang kaya raya, Paman ?” tanya Zaid.
”Rasulullah adalah seorang Nabi, bukan seorang raja, Zaid,” jawab Paman Atib.
”Beliau tidur diatas tikar yang serupa dengan yang kita pakai. Beliau memakai pakaian seperti yang kita pakai. Beliau juga memakan makanan seperti yang kita makan, yaitu beberapa butir kurma dan segelas air. Sesekali beliau minum susu kambing itupun hadiah dari para tetangganya”.
Zaid termenung. Tadinya dia berharap bahwa Nabi akan lebih kaya daripada Raban. Tetapi kini dia tercenung. Karena kekayaan Nabi tidak lebih dari keluarganya sendiri, bagaimana mungkin seorang yang tidak kaya bisa ditaati semua orang ?, bukanlah Raban yang kaya itu tinggal mengatakan sesuatu maka semua keinginannya akan terkabul.
”Kalau Nabi bukan orang kaya, bagaimana Beliau bisa membantu kita, rakyat yang miskin ini, Paman ?” tanya Zaid keheranan.
Paman Atib tersenyum. ”Nabi kita punya kasih sayang, wahai Zaid. Dengan kasih sayang itulah Nabi menolong semua umatnya,” kata Paman Atib dengan lembut. ” Bila beliau punya sedikit kelebihan uang, akan dibagi-bagikannya kepada para fakir miskin. Beliau juga mengajarkan pada orang kaya, agar senantiasa membantu saudara-saudara mereka yang kesusahan. Kasih sayang Nabi tidak terbatas, wahai Zaid. Kasih sayang Nabi meliputi seluruh alam.”
Zaid tercenung. ”Subhanallah...” ucapnya lirih.
”Bila seseorang memberi kasih sayang, ia akan di beri kasih sayang pula oleh Allah dan orang-orang lain,” kata paman Atib
Kamis, 15 Desember 2011
Sepatu bermasalah
Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama. Orang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya dengan rapi, sebelah menyebelah, di luar pintu. Orang kedua melepas sepatunya, mengimpitkan kedua alas sepatunya dan membawanya masuk ke masjid.
Terjadilah percakapan di antara sekelompok orang saleh yang duduk-duduk di dekat pintu masjid, siapa dari kedua orang tadi yang lebih saleh. “Jika orang masuk masjid telanjang kaki, bukankah lebih baik menaruh saja sepatunya di luar?” tanya seseorang.
“Tetapi tidakkah kita harus mempertimbangkan,” kata yang lain, “Bahwa orang yang membawa masuk sepatunya ke masjid mengingatkan dirinya bahwa ia sedang dalam keadaan kerendahan hati yang pantas?”
Ketika dua orang itu selesai shalat, mereka ditanyai terpisah oleh kedua kelompok yang berbeda pendapat tadi.
Orang pertama menjawab, “Aku meninggalkan sepatuku di luar dengan alasan biasa. Jika seandainya ada orang bermaksud mencuri sepatuku maka ia akan memperoleh kesempatan untuk menangkis godaan itu, dan dengan kemudahan memperoleh kebaikan bagi dirinya sendiri.”
Para pendengar sangat terkesan oleh kemuliaan hati orang saleh itu, yang menganggap harta miliknya sepele sehingga merelakan saja semuanya kepada nasib.
Orang kedua, pada saat yang sama, berkata, “Aku membawa masuk sepatuku ke masjid sebab jika kubiarkan di luar mungkin akan menggoda seseorang untuk mencurinya. Siapa pun yang menyerah pada godaan tersebut tentu akan membuatku terlibat juga dalam dosa.”
Para pendengar terkesan sungguh oleh ucapan yang saleh itu, dan mengagumi kedalaman pikiran orang suci tersebut.
Namun, ada orang lain, seorang bijaksana juga, yang hadir di tengah mereka, berseru, “Sementara kalian berdua dan para pendengarmu terlena dalam perasaan puasmu, saling berceloteh tentang ibarat yang diandaikan, ada hal-hal nyata telah terjadi.”
“Apa itu?” tanya kerumunan orang itu.
‘”Tak ada orang yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada orang yang tidak tergoda oleh sepatu itu. Pendosa khayalan itu tak pernah lewat. Justru seorang yang tak punya sepatu untuk dibawa masuk atau ditaruh di luar pintu, masuk ke masjid. Ia tidak menyadari pengaruh yang diberikannya atas orang-orang yang melihatnya maupun yang tidak melihatnya. Tak ada seorang pun yang memerhatikan perilakunya. Tetapi, oleh karena ketulusannya, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung menolong orang-orang yang ingin mencuri, yang mungkin betul-betul mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri mereka ketika menghadapi godaan.”
Belum jugakah kalian mengerti bahwa sekedar perilaku yang disadari, betapa pun mulia itu dalam pemandangannya, sesungguhnya tak berarti bila dibandingkan dengan pengetahuan bahwa ada sungguh-sungguh orang bijaksana yang sejati?
[republika.co.id]
Terjadilah percakapan di antara sekelompok orang saleh yang duduk-duduk di dekat pintu masjid, siapa dari kedua orang tadi yang lebih saleh. “Jika orang masuk masjid telanjang kaki, bukankah lebih baik menaruh saja sepatunya di luar?” tanya seseorang.
“Tetapi tidakkah kita harus mempertimbangkan,” kata yang lain, “Bahwa orang yang membawa masuk sepatunya ke masjid mengingatkan dirinya bahwa ia sedang dalam keadaan kerendahan hati yang pantas?”
Ketika dua orang itu selesai shalat, mereka ditanyai terpisah oleh kedua kelompok yang berbeda pendapat tadi.
Orang pertama menjawab, “Aku meninggalkan sepatuku di luar dengan alasan biasa. Jika seandainya ada orang bermaksud mencuri sepatuku maka ia akan memperoleh kesempatan untuk menangkis godaan itu, dan dengan kemudahan memperoleh kebaikan bagi dirinya sendiri.”
Para pendengar sangat terkesan oleh kemuliaan hati orang saleh itu, yang menganggap harta miliknya sepele sehingga merelakan saja semuanya kepada nasib.
Orang kedua, pada saat yang sama, berkata, “Aku membawa masuk sepatuku ke masjid sebab jika kubiarkan di luar mungkin akan menggoda seseorang untuk mencurinya. Siapa pun yang menyerah pada godaan tersebut tentu akan membuatku terlibat juga dalam dosa.”
Para pendengar terkesan sungguh oleh ucapan yang saleh itu, dan mengagumi kedalaman pikiran orang suci tersebut.
Namun, ada orang lain, seorang bijaksana juga, yang hadir di tengah mereka, berseru, “Sementara kalian berdua dan para pendengarmu terlena dalam perasaan puasmu, saling berceloteh tentang ibarat yang diandaikan, ada hal-hal nyata telah terjadi.”
“Apa itu?” tanya kerumunan orang itu.
‘”Tak ada orang yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada orang yang tidak tergoda oleh sepatu itu. Pendosa khayalan itu tak pernah lewat. Justru seorang yang tak punya sepatu untuk dibawa masuk atau ditaruh di luar pintu, masuk ke masjid. Ia tidak menyadari pengaruh yang diberikannya atas orang-orang yang melihatnya maupun yang tidak melihatnya. Tak ada seorang pun yang memerhatikan perilakunya. Tetapi, oleh karena ketulusannya, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung menolong orang-orang yang ingin mencuri, yang mungkin betul-betul mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri mereka ketika menghadapi godaan.”
Belum jugakah kalian mengerti bahwa sekedar perilaku yang disadari, betapa pun mulia itu dalam pemandangannya, sesungguhnya tak berarti bila dibandingkan dengan pengetahuan bahwa ada sungguh-sungguh orang bijaksana yang sejati?
[republika.co.id]
Seekor anjing dan seorang sufi
Suatu hari seorang lelaki berpakaian sufi sedang berjalan-jalan. Di tengah jalan dilihatnya seekor anjing yang tanpa sebab dan tanpa alasan dipukulnya keras keras dengan tongkat.
Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, sambil terus menjilati lukanya. Ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.
Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, “Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!”
Jawab sufi itu, “Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku.”
Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.
Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing, “Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami.”
Kata anjing itu, “Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh!”
[republika.co.id]
Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, sambil terus menjilati lukanya. Ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.
Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, “Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!”
Jawab sufi itu, “Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku.”
Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.
Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing, “Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami.”
Kata anjing itu, “Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh!”
[republika.co.id]
Rabu, 18 Agustus 2010
Orang Buta Jadi Korban
Musa pergi ke mata air yang ditunjukkan kepadanya. Dia naik ke atas sebuah bukit dan bersembunyi. Tidak lama kemudian datanglah seorang penunggang kuda. Dia turun dari kudanya, lalu wudlu, dan meminum air. Setelah itu dia shalat dan meletakkan sebuah kantong di pinggirnya yang berisi uang seribu dinar.
Setelah selesai melakukan shalat, penunggang kuda tadi bergegas pergi dan sangat terburu-buru sehingga dia lupa terhadap kantongnya. Tidak lama kemudian datang seorang anak kecil untuk meminum air dari mata air itu. Ia melihat ada sebuah kantong lalu mengambilnya dan langsung pergi.
Setelah anak kecil pergi, datang seorang kakek yang buta. Ia mengambil air untuk diminum lalu wudlu dan shalat. Setelah si kakek selesai melakukan shalat, datang penunggang kuda yang kehilangan kantongya itu. Dia menemukan kakek buta itu sedang berdiri dan akan beranjak dari tempatnya. Si penunggang kuda berkata, "Kamu pasti mengambil kantongku yang berisi uang di sini !" Betapa kagetnya si kakek buta itu. Ia berkata, "Bagaimana saya dapat mengambil kantongmu sementara mataku tidak dapat melihat ?" Penunggang kuda itu berkata, "Kamu jangan berdusta ! Sebab, tidak ada orang lain selain kamu." Si kakek buta berkata, "Betul, saya berada disini sendirian. Namun, kamu kan tahu mataku tidak dapat melihat." Si penunggang kuda berkata, "Mengambil kantong itu tidak harus dengan mata, dungu ! tetapi dengan tangan ! Walaupun mata kamu tidak melotot, tanganmu tetap dapat digunakan."
Akhirnya si kakek buta itu dibunuh oleh penunggang kuda. Setelah si kakek buta dibunuh, ia menggeledahnya untuk menemukan kantongnya. Namun, ia tidak menemukannya. Maka, ia pergi meninggalkan mayat kakek buta tersebut.
Ketika Musa melihat kejadian tersebut, dia berkata, "Ya Tuhan, sungguh saya tidak sabar atas kejadian itu. Namun, saya yakin Engkau sangat adil. Kenapa kejadian mengenaskan itu bisa terjadi ?"
Tidak lama kemudian datanglah malaikat Jibril dan berkata, "Allah memerintahkan kepadaku agar menyampaikan penjelasan-Nya kepadamu. Dia menyebutkan bahwa diri-Nya sangat mengetahui hal-hal ghaib yang tidak engkau ketahui. Dia menyebutkan bahwa anak kecil yang mengambil kantong adalah mengambil haknya. Dulu, ayahnya pernah bekerja di si penuggang kuda itu namun tidak dibayar secara zalim. Jumlah yang harus dibayarkan kepada ayah anak itu adalah sejumlah uang yang ada dalam kantong itu. Adapun kakek buta adalah orang yang membunuh ayah anak kecil itu sebelum mengalami kebutaan."
Langganan:
Postingan (Atom)